Tampilkan postingan dengan label Kantong Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kantong Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2016

Menjadi Babi di Sepertiga Malam


Karyo berubah menjadi babi di sepertiga malam, saat di mana sebagian orang lain sedang bersujud dan memohon datangnya pundi-pundi materi. Ia gemar melakukan itu setelah dirinya terkena pemutusan hubungan kerja sepihak dari perusahaan otomotif di kawasan timur ibu kota. Karyo kesal mendapati dirinya diperlakukan semena-mena. Maka dari itu ia menjadi babi dan terus menyenangi kegiatan barunya itu sampai hari ini.
Mula-mula ia hanya perlu tidur beberapa jam agar kondisinya terjaga sampai dini hari tiba. Dengan begitu ia bisa menjadi babi yang lincah dan pergerakannya tak mungkin bisa dideteksi oleh siapapun. Karyo tinggal meringkuk di lantai dengan posisi kedua tangan di samping kuping serta bokong yang menjulang ke langit-langit. Setelahnya tinggal tugas sang istri, Sumidah, untuk menjaga pencahayaan di ruang ritual. Konon cahaya perlu tetap menyala agar sang babi mampu melihat dalam keadaan gelap sekalipun.
Ibarat babi kecil yang sedang kelaparan, Karyo berkelana dengan semangat berapi-api. Keempat kaki kecilnya, dengan tubuh hitam dekil, menelusuri jalan sampai pada perumahan mewah. Ketika menjajaki kakinya di depan pagar serta tembok yang menjulang tinggi, sang babi hanya perlu bergeser sedikit ke area yang dirasa strategis. Setelahnya ia tinggal menggesek-gesek bokongnya ke area strategis itu dan, tak berapa lama, sang babi sudah mampu menghimpun banyak uang pada kandung kemihnya.

Senin, 11 Januari 2016

Ada yang Coba Meniru Tuhan

Huruf pertama menandakan kehidupanku. Aku tidak menyangka bisa tiba-tiba hidup dan menjalani kehidupan di dunia ini. Sebelumnya dunia terasa gelap, tak terbayang, bahkan sangat samar di pikiranku. Aku tiba-tiba muncul di dunia yang tak kuketahui bertujuan untuk apa. Terlalu mengagetkan bagiku saat pertama kali lahir dan telah mengetahui banyak hal. Dan aku pun sungguh merasa aneh bisa mencurigai keanehanku di dunia sekarang ini.
Langkah kakiku diatur oleh seseorang yang tak pernah kuketahui siapa. Ia belum pernah menjelaskan asal-usul dalam tulisannya sejauh ini. Dirinya sungguh menjengkelkan, sebab bukan saja ia mengatur langkahku, namun ia juga ikut-ikutan mengambil alih persoalan takdir. Seolah sikapnya seperti sedang meniru Tuhan. Dan di sini, aku adalah tokoh yang sedang ia mainkan. Menggenjot diri kesana kemari sembari coba berharap takdir akan diperlakukan baik.
Hal yang membuatku kesal adalah karena apa yang dia gerakkan padaku tidaklah mempunyai tujuan yang berarti. Ia terlalu ceroboh dalam menentukan gerak dan lebih suka mengambil keputusan sendiri. Padahal, ia bisa-bisa saja mendiskusikan segalanya bersama. Agar kehidupanku yang muncul tiba-tiba ini juga mempunyai arti yang baik. Dan aku pun akan senang jika dia memang bisa berlaku demikian. Tapi sayangnya itu hanya isapan jempol belaka. Begitu berkhayal sepertinya diriku ini.

Kamis, 15 Januari 2015

Resep Menjadi Pintar

Saya menemukan resep untuk menjadi pintar dari sebuah buku kuno di perpustakaan. Sebuah resep yang mengingatkan saya pada suatu hal.

Anggap saja ceritaku ini benar. Aku sedang berada di masa depan sekarang. Kalian tidak perlu bertanya bagaimana aku bisa sampai ke sini atau apa diriku menggunakan pintu ajaib Doraemon atau tidak. Yang pasti sekarang aku sedang berada di masa depan, tepatnya di tahun 2064. 

Umurku masih tetap sama dengan umurku sebelum pindah ke masa depan. Kalian tidak perlu tau siapa aku, karena kalian cukup tau aku dengan sebutan “aku”. Tugasku di masa depan hanya satu, yakni untuk mencari informasi pendidikan di negeri ini lewat teman masa laluku. Lagi-lagi kalian tidak perlu menganggap hebat atau terlalu heboh dengan apa yang aku lakukan. Karena sejatinya suatu saat hal ini juga akan bisa kalian lakukan. Mungkin dengan cara yang lebih hebat dan lebih jauh lagi masanya.

Beruntung di masa depan ini aku cepat menemukan ilmuwan yang juga sebenarnya teman masa laluku. Aku lebih suka memanggil dia Umar. Orang ini adalah kawan SMA-ku berpuluh tahun silam. Ia termasuk salah satu juara kelas di sekolahku yang lagi-lagi ada di masa lalu. Tapi sayang, seolah ilmu yang masuk ke dalam kepalanya membuat ia semakin terlihat tua saat ini. Keriput dari pinggiran keningnya sudah tak bisa ia tutup-tutupi lagi. Apalagi kantung mata yang menggantung begitu besar. Tapi aku semakin percaya dengan kepintarannya karena ini mulai terlihat botak sekarang.

Jumat, 31 Januari 2014

Sepotong Cinta di Taman Honda

Apakah cinta sejati bisa kita pilih?

Pikirannya entah kemana saat ini. Jalannya sungguh pelan seperti atlet yang baru menyelesaikan marathonnya. Kepalanya pun hanya menunduk padahal sungguh ramai jalan di depan. Hingga tetesan air dari langit pun membuatnya sadar. Ia harus segera bergegas dan melupakan masalah ini secepatnya. Cipratan air dari langkah kakinya membuat rok panjang yang ia kenakan mulai ternoda. Sherly harus segera sampai di kantor. Sebelum surat peringatan berikutnya datang karena semakin lalainya ia bekerja.
   
“Ah, kusut banget gue hari ini. Gimana mau ada cowo yang suka nantinya?” Seperti biasa, ia selalu mengeluhkan masalah belahan hati yang entah kapan bisa ia temukan lagi. Keluhan yang ia keluarkan di depan kaca toilet pun tak membuatnya sadar. Keran air yang sudah lama mengucur pun tak kunjung dimatikan. Bercak kotoran diroknya tak juga ia bersihkan. Sampai air keran itu pun mati dengan sendirinya.

Ia keburu kesal. Kembali ia menggerutu karena belum sempat membersihkan noda di rok panjangnya. Dibantinglah pintu toilet dengan sekali nafas. Ia sungguh teledor hingga menabrak seorang lekaki dengan kacamata yang hampir jatuh dari hidungnya. 

“Eh, kalo jalan pake mata dong.” Kembali mengomel wanita ini yang membuat wajah cantiknya selalu terlihat menyeramkan di mata orang lain.

Senin, 13 Januari 2014

Pijakan Kaki di Pasar Turi

Inspired by: Kereta Malam

Dipegangnya sebuah lembar foto yang berwarna hitam-putih. Lembaran polos di belakangnya sudah mulai menguning. Paras wanita yang terpampang sungguh menawan. Rambutnya panjang, senyumnya begitu manis. Walau kalau dilihat dari matanya agak sedikit sipit. Cukup beda dengannya yang memiliki perawakan besar dan terlihat chubby. Rani, sudah lama menanti-nantikan kehadiran neneknya. Namun sang nenek yang berada jauh di Surabaya sana tak kunjung datang.

"Bu, nenek kemana sih?" Gerutu Rani sambil kembali memasukan foto tersebut ke dalam album.
"Gak tau, tuh. Kemarin nenek juga bilangnya kangen sama kamu loh, Ran.

Pikiran Rani mulai mencari sisa-sisa ide yang bisa digunakan. Tiba-tiba kini otaknya berfungsi dengan baik. Rani ingin menemui neneknya langsung di Surabaya. Entah apa ini ide gila atau terlalu nekat. Rasa kangen yang dipendamnya tak tertahankan lagi. Ia ingat, saat masih berseragam putih abu-abu dirinya terakhir kali bertemu dengan sang nenek. Sekarang boro-boro seragam SMA nya muat. Pakaian wisuda yang baru sebulan dipakai pun sudah sempit dibadannya.

Minggu, 08 Desember 2013

Dunia Maya (Teka-Teki Maya)

Coretan tinta hitam mengawali pagi hari dengan penuh semangat. Satu teguk kopi hitam pun telah membuatnya siap menjalani hari. Namanya Adi, begitu yang tertulis di tanda pengenal yang menggantung di saku kemeja birunya. Menjadi seorang wartawan bukanlah impiannya sejak dulu, terlebih menjadi wartawan majalah politik. Ia lebih bermimpi menjadi pilot dan bisa melihat banyak keindahan di luar sana. Namun, kenyataan berkata lain. Kerasnya kota Jakarta membuat ia tidak bisa menerbangkan cita-citanya tersebut.

Deadline yang membuatnya selalu merasa pusing, bahkan frustasi. Malam ini sebuah data interview tentang dugaan korupsi harus segara dikirim ke redaksi. Lembaran pertanyaan yang sejak tadi digenggam tak luput dari pandangan pejabat di gedung tersebut. Berlantai 28 dan sangat mencakar langit, membuat Adi sepertinya telah memasuki gedung yang tepat. Sebuah perusahaan batu bara yang bekerja sama dengan pemerintah menjadi incarannya saat ini. Langkah pertama sudah membuatnya bingung. Harus kemana ia mencari pejabat yang dimaksud.

"Adi?" Seorang perempuan manis menyapanya dengan penuh kelembutan. Tampaknya seperti sekretaris.
"Maya, ya?" Balas Adi dengan wajah sumringah. Pikirannya mendadak terbang kembali ke beberapa tahun silam.

Sabtu, 30 November 2013

Terjebak Nostalgia

Raisa - Terjebak Nostalgia

Senyumnya manis, parasnya juga cantik. Dinginnya angin pagi yang berhembus lewat jendela membuat Shena harus menyiapkan jaket tambahan agar tidak kedinginan di Australia nanti. Australia tentu akan lebih dingin dari Jakarta, dan tentu Australia akan mempunyai kenangan baru yang pastinya berbeda dengan Jakarta. Sepagi ini, Shena sudah harus berangkat ke bandara Soekarno-Hatta untuk melanjutkan penerbangannya ke Australia, melanjutkan studi yang hingga kini terus ia kejar. Namun, saat membereskan beberapa tumpukan jaketnya, ia menemukan sebuah catatan diary yang terselip di salah satu saku jaket yang berwarna biru. Sebuah catatan tentang masa lalunya.

Saat SMA, hobi Shena selain belajar memanglah menulis kegiatan sehari-harinya. Terlebih soal kehidupan cinta yang cukup membuatnya semakin dewasa. Lembar pertama dimulai ketika Shena kaget terperanga. Shena tidak percaya pada saat itu cukup banyak laki-laki yang begitu mengidamkannya. Shena tertawa kecil saat membaca halaman tersebut. Namun, lambat laun wajah Shena berubah seiring terpampang tulisan tentang masa lalunya, yakni Gery. Sosok lelaki tersebut ialah cinta yang pertama kali berhasil membuat Shena merasa rela untuk melakukan apapun.

Sabtu, 02 November 2013

Cinta Sepermainan


Memasuki kelas 11, Ray dan Viola kembali duduk bersebelahan. Sejak kelas 10 lalu, mereka berdua telah menjadi teman yang sangat akrab. Dengan begitu, mereka telah kurang lebih 1 tahun selalu bermain bersama, entah apa akan ada perasaan lain yang muncul di dalam pikiran mereka nantinya. Namun, sepertinya Ray telah memiliki perasaan lain terhadap sahabat sepermainannya itu, yakni Viola. Tanpa diketahui oleh siapapun, ternyata Ray telah menyimpan perasaan suka terhadap Viola sejak 1 tahun lalu. Diawal MOS, Ray sudah jatuh hati pada pandangan pertama dengan Viola. "Viola cantik banget, ya.", kalimat tersebut keluar dengan spontannya saat Ray pertama kali melihat Viola di ruang kelas. Suasana hati Ray mendadak berbunga sejak hari itu.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Masa Orientasi Sunny (MOS)

Indah sekali hidup ini. Istanaku begitu besar, banyak buah dan juga kesenangan ada dimana-mana. Semua pasukan selalu siap melindungi, tidak ada gangguan dari pihak manapun yang selalu menyusahkan hidupku.

“Ratu, apakah kau senang dengan kehidupan yang seperti ini?” Tanyaku kepada Ratu yang begitu cantik rupanya
“Tentu, Raja. Aku selalu menyenangi apa yang Raja Ryan senangi pula.” Balas Ratu dengan lembutnya.

Semua terlihat bagaikan surga di langit ke-tujuh sana. Sungai yang jernih mengalir begitu sendunya. Kucoba untuk sedikit meminum air yang begitu bening ini, namun mendadak tenggorokan ku tersedak dengan luar biasanya.

“Aduuuh! Aduuuh!” Teriakku sambil batuk-batuk, ternyata Ibu mencoba membanguniku dengan cipratan air yang dibawanya dari kolam. Spontan mimpi indahku berhenti sampai disitu.
“Liat jam sana! Sekarang kan hari pertama kamu sekolah, udah SMA jangan manja lagi ya.” Sahut Ibu yang di tangan kanannya masih memegang gayung.