Tampilkan postingan dengan label Kantong Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kantong Review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2016

Jalan Lain ke Tulehu dan Agama Baru yang Bernama Sepak Bola


Konon, sastra tak bisa ditafsir seluas-luasnya tanpa melihat aspek sosial yang terkandung di dalamnya. Sastra, yang merupakan cerminan masyarakat, dengan begitu menjadi sebuah dokumen sosial yang sedikit-banyak merefleksikan lingkup kenyataan. Walau tentu ada batasan-batasan yang kemudian membedakan karya sastra dengan analisis ilmiah. Seperti yang dikatakan Sapardi Djoko Damono dalam Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas, bahwa sastra menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya. Sangat berbanding terbalik dengan analisis ilmiah yang cenderung objektif, saklek, dan bermuara pada keseragaman.
Berlandaskan itu, novel Jalan Lain ke Tulehu karangan Zen R.S. menarik untuk ditelusuri secara lebih serius. Tujuannya tak lain agar membuat pembacaan menjadi jauh lebih menyenangkan nantinya. Dalam novel tersebut, besar kemungkinan pembaca disuguhkan peristiwa-peristiwa sosial yang belum tentu dapat terangkum dalam analisis ilmiah atau model karya sastra lain. Sebab meninjau tafsir kondisi sosial hasil kacamata pengarangnya langsung, pastilah membuat kenyataan yang dituliskan mau-tidak mau akan memiliki kesan subjektivitas tersendiri. Maka dari itu, Wellek dan Warren pun pernah mengatakan bahwa tidaklah jelas pengertiannya apabila sastra dikatakan benar-benar mencerminkan atau mengekspresikan kehidupan secara menyeluruh.
Cerita Jalan Lain ke Tulehu berkisah tentang Gentur, seorang wartawan dari Jakarta, yang terperangkap dalam konflik horizontal di Maluku. Berlatar konflik Ambon di tahun 1999, Gentur datang dengan penuh ketidakpastian. Selain mendalami konflik sebagai tugas utamanya meliput berita, Gentur juga terjebak sebagai pendatang di antara konflik desa Tulehu dan Waai. Tulehu, yang mengatasnamakan kelompok Islam, saling bertikai dengan Waai yang mengatasnamakan dirinya Nasrani. Hingga pada akhirnya Gentur bertemu Said dan menjadikan sepak bola sebagai lorong penyelesaian yang begitu esensial.

Minggu, 08 Mei 2016

Dari Juragan Haji: Pemantik untuk Lebih Sadar

Melihat ulang Juragan Haji.

“Allah selalu mendengar. Allah tahu yang terbaik. Allah memberi hikmah pada setiap kejadian yang menimpa kita. Percayalah pada Allah. Bila kita berbuat baik, tak ada yang lebih indah selain surga.” Kutipan menyejukkan itu berasal dari cerpen Darahitam, sedikit dari sekian banyak cerita Helvy Tiana Rosa dalam buku kumpulan cerpen Juragan Haji. Tidak perlu diperdebatkan lagi sebetulnya dengan gaya penulisan Helvy yang sangat kental dengan unsur-unsur keislaman. Dan sejatinya hal tersebut malah menjadi poin ciri khas Helvy yang membedakannya dengan kebanyakan penulis lain. Itu semakin diperjelas sebab dirinya pun termasuk dalam 500 The Most Influental Muslims in The World. Sebuah penganugerahan tokoh muslim yang tidak main-main.
Juragan Haji merupakan kumpulan cerpen yang seharusnya sudah tidak asing lagi bagi para penikmat sastra. Dahulu, kumpulan cerpen ini sempat diterbitkan dengan judul Bukavu oleh penerbit Lingkar Pena Kreativa dan mendapat penghargaan hingga masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award 2008. Entah bermaksud apa atau mungkin dikarenakan banyaknya peminat, maka pada 2014 penerbit Gramedia Pustaka Utama kembali memunculkannya dengan judul Juragan Haji. Walau sebetulnya agak disayangkan karena kita mengetahui bahwa Helvy adalah sosok penulis produktif yang begitu dielu-elukan karyanya. 

Sabtu, 10 Oktober 2015

Menimbang Museum Hujan: Antara yang Subjektif dan Objektif

Puisi harus berterima, atau setidaknya memiliki makna yang mampu diterka, ujar Saini K.M. dalam Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993). Ia melanjutkan, dengan  begitu puisi sebagai media komunikasi menjadi benar komunikatif adanya. Penyair yang telah mengkristalkan pengalamannya pun alhasil tidak sia-sia setelah berusaha. Begitu pula dengan pembaca yang perlu meluangkan waktu sesaat untuk kemudian membaca. Tentu, siapa di dunia ini yang menginginkan kesia-siaan?
 
Itu pula harapan yang saya emban ketika pertama kali disuguhkan Museum Hujan. Buku kumpulan puisi karya Nur Hawatip, yang diterbitkan pertama kali oleh Teras Budaya Oktober 2014 silam. Sebagai buku puisi, yang peminatnya tak seheboh prosa semisal cerpen dan novel, Museum Hujan ibarat oase di padang pasir. Menyegarkan, di saat gempuran novel serta kumcer sangat marak di toko buku. Hal ini kemudian akan semakin menyegarkan apabila saya juga benar mampu memahami apa-apa yang terdapat pada buku puisi tersebut. Tak sebatas hanya pemanis jiwa, namun lebih ikut memahami serba-serbi hal yang coba Watip tawarkan.

Sabtu, 20 Desember 2014

Cinta yang Dungu (Murjangkung Review)

Sekarang mau sok serius sedikit...

Apa yang membuat Anda bisa tertegun, selain melihat sebuah keajaiban dan kejutan muncul secara bersamaan? Mungkin banyak, tapi sebenarnya hanya itu yang ingin saya bagi sedikit disini. Pada awalnya, saya mengira tagline “cinta yang dungu dan hantu-hantu” dalam Murjangkung hanyalah sebuah murni metafora yang ingin A.S. Laksana sampaikan dalam buku kumpulan cerpen yang dibuatnya. Tapi nyatanya tebakan saya sungguh meleset. Kisah cinta yang ada di dalam kumpulan cerpen itu ternyata benar-benar dungu, bahkan bisa dibilang tidak wajar. Tidak wajar disini bukan berarti cerita fantasi yang sering muncul pada imajinasi anak-anak kecil, tetapi lebih ke pemikiran cinta yang memang ada namun belum lazim bagi kita untuk tau, atau mungkin percaya. Sehingga seperti yang saya bilang tadi, saya sempat tertegun saat melihat sebuah keanehan yang bisa diceritakan dengan begitu proporsionalnya. A.S. Laksana sangat peka dalam menentukan ide yang akan ia olah.

Cinta dalam Murjangkung dikemas dalam bentuk yang tidak lazim. Ia bisa-bisa saja membuat kejutan diakhir cerita tanpa sempat kita duga terlebih dahulu. Persis seperti keseharian kisah cinta kita yang penuh dengan kejutan. Anda tentu bisa-bisa saja mendapat kabar kalau kekasih kesayangan anda mendadak selingkuh dengan orang yang menurut anda sangat tidak pantas untuk dijadikan selingkuhan. Murjangkung menghadirkan kejutan itu dengan sangat apik, tidak mainstream kalau kata abege kebanyakan zaman sekarang, dan rasanya seperti tersentil ketika akhirnya mata saya sampai pada akhir halaman dari setiap kisah yang diuntainya. Seolah sebagai pembaca saya menjadi ikut-ikutan dibuat dungu oleh Murjangkung. Namun, dungu yang elegan tentunya.

Murjangkung - A.S. Laksana

Senin, 10 Februari 2014

Semarak #PrideOfBekasi!

#PrideOfBekasi - by @St_Shooter

Pertunjukan stand-up comedy yang sudah lama ditunggu pun akhirnya datang juga. Anak-anak Bekasi yang tergabung dalam komunitas Stand-Up Indo BEKASI (@StandUpIndo_BKS) berhasil membuat sebuah gebrakan baru yang konon katanya memang pertama kali dilakukan di Indonesia, yaitu special show stand-up comedy yang berbasis komunitas. Dengan mengusung tema #PrideOfBekasi, mereka coba membawa Bekasi ke tempat yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.

Ada 4 manusia yang dinanti kehadirannya dalam tour #PrideOfBekasi ini. Pertama, ada Arya Novrianus (@AryaNovrianus) yang merupakan comic dengan sejuta pikiran cabul di dalam otaknya. Kedua, ada Adjis Doa Ibu (@adjisdoaibu). Komika satu ini sering mencap dirinya mirip dengan Iqbal Coboy Junior, sayang dia enggak inget umur. Ketiga ada Andy Wijaya alias Awwe (@awwe_) yang konon kabarnya merupakan comic yang paling tau seluk beluk kota Bekasi. Terakhir ada bintang film dalam Comic8 yang belum lama ini tayang dan sudah tembus satu juta penonton, yaitu Bintang Timur (@bintangbete). Banyak yang bilang dia mirip Raisa, eh tapi bener sih. Gue setuju kali ini.