Konon, sastra tak bisa ditafsir seluas-luasnya tanpa melihat aspek sosial yang terkandung di dalamnya. Sastra, yang merupakan cerminan masyarakat, dengan begitu menjadi sebuah dokumen sosial yang sedikit-banyak merefleksikan lingkup kenyataan. Walau tentu ada batasan-batasan yang kemudian membedakan karya sastra dengan analisis ilmiah. Seperti yang dikatakan Sapardi Djoko Damono dalam Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas, bahwa sastra menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya. Sangat berbanding terbalik dengan analisis ilmiah yang cenderung objektif, saklek, dan bermuara pada keseragaman.
Berlandaskan itu, novel Jalan Lain ke Tulehu karangan Zen R.S. menarik untuk ditelusuri secara lebih serius. Tujuannya tak lain agar membuat pembacaan menjadi jauh lebih menyenangkan nantinya. Dalam novel tersebut, besar kemungkinan pembaca disuguhkan peristiwa-peristiwa sosial yang belum tentu dapat terangkum dalam analisis ilmiah atau model karya sastra lain. Sebab meninjau tafsir kondisi sosial hasil kacamata pengarangnya langsung, pastilah membuat kenyataan yang dituliskan mau-tidak mau akan memiliki kesan subjektivitas tersendiri. Maka dari itu, Wellek dan Warren pun pernah mengatakan bahwa tidaklah jelas pengertiannya apabila sastra dikatakan benar-benar mencerminkan atau mengekspresikan kehidupan secara menyeluruh.
Cerita Jalan Lain ke Tulehu berkisah tentang Gentur, seorang wartawan dari Jakarta, yang terperangkap dalam konflik horizontal di Maluku. Berlatar konflik Ambon di tahun 1999, Gentur datang dengan penuh ketidakpastian. Selain mendalami konflik sebagai tugas utamanya meliput berita, Gentur juga terjebak sebagai pendatang di antara konflik desa Tulehu dan Waai. Tulehu, yang mengatasnamakan kelompok Islam, saling bertikai dengan Waai yang mengatasnamakan dirinya Nasrani. Hingga pada akhirnya Gentur bertemu Said dan menjadikan sepak bola sebagai lorong penyelesaian yang begitu esensial.



