Tampilkan postingan dengan label Mari Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mari Belajar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2016

Ngobrol-ngobrol Ama Naked Poems: Otak Kotor atau Imajinasi Seksi

Puisi bisa menusuk walau itu tak akan membuatmu berdarah ketika membacanya. Ada puisi-puisi yang bisa membuat orang mengernyitkan dahi karena saking sulitnya menerka segala untaian yang dimunculkan. Beberapa puisi lain bahkan bisa membuat kita senyum-senyum sendiri. Pun terdapat puisi yang mampu membakar emosi sebab adanya kesamaan nasib sepenanggungan. Puisi bekerja dengan caranya masing-masing. Seolah tiap kepala akan mendapat hidayah yang berbeda ketika menyimaknya.

Kali ini dalam perjalanan menyimak dunia persilatan puisi yang ada, saya menemukan sebuah keunikan atau mungkin bisa dikatakan sebagai tawaran baru, terhadap pergaulan puisi di Indonesia. Tak muluk-muluk, kebanyakan puisinya berjalan begitu natural walau apa yang dibicarakan bagi sebagian besar orang tentu cukup tabu. Ia membicarakan perkara-perkara seksualitas melalui kacamata perempuan dengan begitu santainya.

Beruntung saya bisa mendapatkan beberapa waktunya untuk mau berbagai dengan siapapun yang menyukai seni, terkhusus sastra dengan puisi-puisi yang ada di dalamnya. Sebelum mengkhayati waktu obrol-obrol santai saya bersama orang ini, ada baiknya teman-teman membuka pikiran terlebih dahulu. Seperti mengikuti anjuran bijak di luar sana, coba kosongkan dulu bejananya. Saya merasa butuh kedewasaan dan pemahaman untuk menyimak gaya "perlawanan" yang dihadirkan Ama, penyair muda wanita, di hadapan kita semua ini.

Tentu setiap pemahaman akan suatu hal harus didahului oleh kerelaan untuk menjauhkan diri dari spekulasi prematur yang menggebu-gebu. Tak perlu panjang lebar lagi. Mari simak obrolan renyah-renyah saya bersama Ama Naked Poems. Perihal puisi dan segala hal yang mengelilinginya.

Sabtu, 27 Februari 2016

Tips Menulis ala Raditya Dika

Waspadalah akan Raditya Dika's Effect!

Semua tahu menulis adalah sebuah pekerjaan yang rumit. Kita dituntut mengutarakan segala yang ada di kepala kepada orang lain. Permasalahannya, kadang ketika seseorang menulis, suara yang muncul tak seperti ketika ia berbicara. Sebab seseorang pada awalnya mungkin terbelit-belit oleh ungkapannya sendiri, kebingungan merunutkan gagasan, hingga persoalan-persoalan pemilihan kata yang rasanya sering membuat (calon) penulis garuk-garuk kepala. Belum lagi soal selera tulisan yang kadang menjadikan seseorang semakin bingung dengan apa-apa yang harus ditulisnya.

Tapi percayalah, walau bukan anggota multi-level marketing, saya berani menjamin kepada Anda bahwa menulis adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh semua orang. Tak mengenal siapa Anda, apa latar belakang, maupun segala keterbatasan yang mungkin dianggap sering menghambat. Sebab menulis sama pula seperti keterampilan lain di dunia. Ia bisa dikuasai apabila memang sering dilatih. Ibarat ketika waktu bocah dulu, kita dengan gagapnya menaiki sepeda roda tiga dengan perlahan. Kemudian kita terus menggowesnya tanpa henti hingga kemudian berhasil beralih ke sepeda roda dua. Sampai ketika seseorang sudah sangat mahirnya, ia sampai bisa lepas tangan saat mengendarai sepeda. Itu semua bergantung dari seberapa tekun latihan yang dijalani.

Belajar menulis juga tak melulu harus didapat dan dipelajari dari seorang mahaguru sastra, jurnalis harian senior, dan lain sebagainya. Jika memang tujuannya belajar, ada banyak hal yang bisa dipetik dari banyak penulis lain sebetulnya. Sebab persoalan menulis tak melulu hadir dari satu genre yang kaku. Maka dari itu, sedikit menyimpang dari kekakuan yang selama ini saya dapat di bangku kuliah, dalam tulisan ini saya coba menghadirkan sebuah anjuran yang rasanya menyegarkan dari penulis komedi yang benar-benar produktif. Ia sering dianggap sebelah mata oleh beberapa penulis kaku karena model tulisannya yang dianggap sebatas haha-hihi semata. Padahal, penulis yang mengidolai Woody Allen ini, selalu mengolah dengan serius tiap tragedi komedi yang ada di tulisan-tulisannya.

Minggu, 23 Februari 2014

Mari Belajar: Blogging bareng Kevin Anggara

Kali ini, memulai segmen lain yang ada di Kresek Kantong. Gue ingin mempersembahkan seorang anak muda hebat yang pada awalnya gue temukan lewat dunia maya. Namanya Kevin Anggara, merupakan seorang blogger yang me-labeli dirinya dengan sebutan pelajar absurd. Pada awalnya, gue melihat ada sisi unik dan kreatif dari Kevin yang sangat menginspirasi dan bisa dijadikan pelajaran untuk gue pribadi. Namun perlahan gue berpikir kalau hanya gue yang menikmati ilmu yang diberikan oleh Kevin kayaknya bakalan kurang asik dan gue gak mau nantinya pintar sendirian (re: pencitraan).

Dan kenapa gue memilih Kevin dan harus Kevin? Karena seperti yang dibilang tadi, diusianya yang masih terbilang muda bahkan sepertinya masih di bawah gue, Kevin udah bisa berkarya banyak, berprestasi bahkan udah nerbitin buku juga yang bikin gue (terutama) ngiri. Maka dari itu segmen ini merupakan bagian yang pas bagi kita semua untuk belajar dari ke-absurd-an Kevin dalam blogging selama ini. Masa yang udah tua kalah sih sama yang masih muda? :))

Yap, mari kita mulai. Mari belajar bareng Kevin Anggara.

Kevin Anggara dengan bukunya SGFD