Puisi bisa menusuk walau itu tak akan membuatmu berdarah ketika membacanya. Ada puisi-puisi yang bisa membuat orang mengernyitkan dahi karena saking sulitnya menerka segala untaian yang dimunculkan. Beberapa puisi lain bahkan bisa membuat kita senyum-senyum sendiri. Pun terdapat puisi yang mampu membakar emosi sebab adanya kesamaan nasib sepenanggungan. Puisi bekerja dengan caranya masing-masing. Seolah tiap kepala akan mendapat hidayah yang berbeda ketika menyimaknya.
Kali ini dalam perjalanan menyimak dunia persilatan puisi yang ada, saya menemukan sebuah keunikan atau mungkin bisa dikatakan sebagai tawaran baru, terhadap pergaulan puisi di Indonesia. Tak muluk-muluk, kebanyakan puisinya berjalan begitu natural walau apa yang dibicarakan bagi sebagian besar orang tentu cukup tabu. Ia membicarakan perkara-perkara seksualitas melalui kacamata perempuan dengan begitu santainya.
Beruntung saya bisa mendapatkan beberapa waktunya untuk mau berbagai dengan siapapun yang menyukai seni, terkhusus sastra dengan puisi-puisi yang ada di dalamnya. Sebelum mengkhayati waktu obrol-obrol santai saya bersama orang ini, ada baiknya teman-teman membuka pikiran terlebih dahulu. Seperti mengikuti anjuran bijak di luar sana, coba kosongkan dulu bejananya. Saya merasa butuh kedewasaan dan pemahaman untuk menyimak gaya "perlawanan" yang dihadirkan Ama, penyair muda wanita, di hadapan kita semua ini.
Tentu setiap pemahaman akan suatu hal harus didahului oleh kerelaan untuk menjauhkan diri dari spekulasi prematur yang menggebu-gebu. Tak perlu panjang lebar lagi. Mari simak obrolan renyah-renyah saya bersama Ama Naked Poems. Perihal puisi dan segala hal yang mengelilinginya.
Kali ini dalam perjalanan menyimak dunia persilatan puisi yang ada, saya menemukan sebuah keunikan atau mungkin bisa dikatakan sebagai tawaran baru, terhadap pergaulan puisi di Indonesia. Tak muluk-muluk, kebanyakan puisinya berjalan begitu natural walau apa yang dibicarakan bagi sebagian besar orang tentu cukup tabu. Ia membicarakan perkara-perkara seksualitas melalui kacamata perempuan dengan begitu santainya.
Beruntung saya bisa mendapatkan beberapa waktunya untuk mau berbagai dengan siapapun yang menyukai seni, terkhusus sastra dengan puisi-puisi yang ada di dalamnya. Sebelum mengkhayati waktu obrol-obrol santai saya bersama orang ini, ada baiknya teman-teman membuka pikiran terlebih dahulu. Seperti mengikuti anjuran bijak di luar sana, coba kosongkan dulu bejananya. Saya merasa butuh kedewasaan dan pemahaman untuk menyimak gaya "perlawanan" yang dihadirkan Ama, penyair muda wanita, di hadapan kita semua ini.
Tentu setiap pemahaman akan suatu hal harus didahului oleh kerelaan untuk menjauhkan diri dari spekulasi prematur yang menggebu-gebu. Tak perlu panjang lebar lagi. Mari simak obrolan renyah-renyah saya bersama Ama Naked Poems. Perihal puisi dan segala hal yang mengelilinginya.

