![]() |
| Waspadalah akan Raditya Dika's Effect! |
Semua tahu menulis adalah sebuah pekerjaan yang rumit. Kita dituntut mengutarakan segala yang ada di kepala kepada orang lain. Permasalahannya, kadang ketika seseorang menulis, suara yang muncul tak seperti ketika ia berbicara. Sebab seseorang pada awalnya mungkin terbelit-belit oleh ungkapannya sendiri, kebingungan merunutkan gagasan, hingga persoalan-persoalan pemilihan kata yang rasanya sering membuat (calon) penulis garuk-garuk kepala. Belum lagi soal selera tulisan yang kadang menjadikan seseorang semakin bingung dengan apa-apa yang harus ditulisnya.
Tapi percayalah, walau bukan anggota multi-level marketing, saya berani menjamin kepada Anda bahwa menulis adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh semua orang. Tak mengenal siapa Anda, apa latar belakang, maupun segala keterbatasan yang mungkin dianggap sering menghambat. Sebab menulis sama pula seperti keterampilan lain di dunia. Ia bisa dikuasai apabila memang sering dilatih. Ibarat ketika waktu bocah dulu, kita dengan gagapnya menaiki sepeda roda tiga dengan perlahan. Kemudian kita terus menggowesnya tanpa henti hingga kemudian berhasil beralih ke sepeda roda dua. Sampai ketika seseorang sudah sangat mahirnya, ia sampai bisa lepas tangan saat mengendarai sepeda. Itu semua bergantung dari seberapa tekun latihan yang dijalani.
Belajar menulis juga tak melulu harus didapat dan dipelajari dari seorang mahaguru sastra, jurnalis harian senior, dan lain sebagainya. Jika memang tujuannya belajar, ada banyak hal yang bisa dipetik dari banyak penulis lain sebetulnya. Sebab persoalan menulis tak melulu hadir dari satu genre yang kaku. Maka dari itu, sedikit menyimpang dari kekakuan yang selama ini saya dapat di bangku kuliah, dalam tulisan ini saya coba menghadirkan sebuah anjuran yang rasanya menyegarkan dari penulis komedi yang benar-benar produktif. Ia sering dianggap sebelah mata oleh beberapa penulis kaku karena model tulisannya yang dianggap sebatas haha-hihi semata. Padahal, penulis yang mengidolai Woody Allen ini, selalu mengolah dengan serius tiap tragedi komedi yang ada di tulisan-tulisannya.


